Gedung Nasional Indonesia Surabaya
Gedung
Nasional Indonesia lokasinya berada di Jl. Bubutan 87, Surabaya, tidak
jauh dari Stasiun Pasar Turi dan Tugu Pahlawan. Gedung yang bersejarah
ini terletak tepat di tepi jalan, berpagar jeruji besi setinggi kepala
orang
dewasa. Tidak terlihat ada penjaga
ketika kami masuk ke dalam kompleks Gedung Nasional Indonesia ini. Di
bagian depan terdapat Patung Dr. Soetomo, berdiri menghadap jalan
memunggungi gedung dengan sebuah pendopo yang luas.
Gedung Nasional Indonesia
dilihat dari samping depan, dengan patung Dr. Soetomo. Beberapa pohon
palem tampak menghias halaman gedung yang masih kelihatan terawat baik
itu.
Sebuah tengara
Gedung Nasional Indonesia di bawah patung Dr. Soetomo, berbunyi “Senantiasa berjuang kemuka
jurusan kita, dengan tiada memperdulikan sendirian dan cela, bahkan
tiada menyesali kehilangan dan keluarganya yang harus menderita dari
barang-barang yang menyenangkan hidup kita sendiri”, diambil dari
kutipan kata-katanya pada 11 Juli 1925.
Soetomo lahir di Desa Ngepeh, Nganjuk, pada 30 Juli 1888 dari
pasangan Raden Soewadji dan Raden Ayu Soedarmi. Sejak kecil Soetomo
diasuh oleh nenek dan kakeknya di Ngepeh, karena ayahnya bekerja sebagai
pegawai negeri di Jombang didampingi ibunya.
Namun karena dimanja kakek neneknya, Soetomo baru mau bersekolah di
Bangil, Pasuruan, ketika berusia 8 tahun setelah berhasil dibujuk dan
ikut bersama Raden Hardjodipuro, pamannya. Di sekolah dasar Soetomo
selalu berada di peringkat teratas, lulus pada 1902, dan setahun
kemudian masuk Stovia (Sekolah Kedokteran) di Jakarta.
Tugu tengara di bagian kanan halaman
Gedung Nasional Indonesia
yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, berbunyi
“Semenjak berdirinya pada zaman Belanda gedung ini menjadi pusat
pergerakan nasional. Pada 25-27 Agustus 1945 Komite Nasional Indonesia
dan BKR dibentuk di gedung ini. Juga digunakan untuk mempersiapkan Rapat
Samodra bersejarah menentang larangan Kenpeitai di Tambaksari 21
September 1945.”
Tengara lain yang cukup menarik di
Gedung Nasional Indonesia
yang berbunyi ‘Batoe Pertama dari Pagar “Gedong Nasional Indonesia”
terpasang oleh Kaoem Istri Indonesia pada 13 Juli 1930. Peringetan ini
terpasang oleh Dames Congressisten P.P.I.I. pada 13 December 1930′
Tengara di dalam ruang pendopo
Gedung Nasional Indonesia,
ditulis dengan ejaan lama, berbunyi “Kami Bangsa Indonesia sadar, bahwa
para Pahlawan telah menjumbangkan bagiannja jang njata pada
tertjapainja kemerdekaan nusa dan bangsa. Maka atas djasa para pahlawan
itu Bangsa Indonesia dengan penuh chidmat dan hormat mempersembahkan
suatu bangunan sebagai tanda terima kasih dan penghargaan jang
setinggi-tingginja. Djakarta 17 Agustus 1964, atas nama Bangsa
Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno’
Tengara di sebelah tengara
Gedung Nasional Indonesia
sebelumnya, berbunyi “Gedung Nasional Indonesia (1934). Tempat pusat
pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Parindra) dibawah pimpinan
dr. Soetomno, tempat pembentukan Komisi Nasional Indonesia (KNI) dan
pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Propinsi Jawa Timur, Karesidenan
dan Kota Surabaya, serta pembentukan Pemuda Putri Republik Indonesia
(PPRI) dan salah satu lokasi terjadinya pertempuran 10 November 1945
antara Arek-arek Suroboyo dan tentara Sekutu”
Pada 20 Mei 1908, dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo bersama dengan
dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Radjiman Wedyodiningrat, dr. Soeradji
Tirtonegoro, dr. M Soelaiman, dr. R Tirtokusumo, dr. M Goembrek, dr.
Angka Prodjosoedirdjo, dr. Moch Saleh, dr. Gunawan Mangunkusumo, dr.
Cipto Mangunkusumo, dr. M Soewarno dan dr Gondo Soewarno. Ia dipercaya
menjadi ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo ini kemudian
ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Boedi Oetomo menyelenggarakan Konggres I di Yogyakarta pada 3-5
Oktober 1908. Setahun kemudian anggotanya telah mencapai jumlah 10.000
orang.
Pendopo luas
Gedung Nasional Indonesia yang ditopang oleh pilar-pilar kayu.
Soetomo menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada 1911 dan bertugas
berturut-turut di Semarang, Batavia, Lubuk Pakam, Kepanjen Malang,
Magetan, Baturaja, dan pada 1917 dipindahkan ke Blora dimana ia menikah
dengan Evardina Johanna Broering, seorang perawat berkebangsaan Belanda.
Tahun 1919 dr. Soetomo mendapat tugas belajar di Universitas
Amsterdam. Ia pun aktif serta menjadi ketua di Perhimpunan Indonesia.
Setelah mendapat Diploma Europeech Aertsen pada 1923, Dr Soetomo bekerja
pada Prof. Mendes da Costa di Amsterdam, lalu menjadi asisten Ilmu
Dermatologi untuk Prof. Dr. Unma di Hamburg, dan memperdalam penyakit
kulit dan kelamin pada Prof. Plaut di Weenen Paris, sebelum akhirnya
pulang dan tinggal di Surabaya.
Pada 11 Juli 1924, Dr. Soetomo mendirikan Pandu Bangsa Indonesia
(Indonesische Studie Club). PBI dengan Boedi Oetomo kemudian bergabung
membentuk Parindra pada 1935, dan pada 15 Mei 1937 diselenggarakan
Konggres pertama dimana Dr. Soetomo terpilih sebagai ketuanya.
Area
Gedung Nasional Indonesia
sekaligus menjadi tempat disemayamkannya jenazah Dr. Soetomo, yang
wafat pada 30 Mei 1938 dalam usia 50 tahun, setelah menderita sakit
sekitar dua tahun. Letak makamnya berada di bagian belakang Gedung
Nasional Indonesia.
Bendera merah putih di makam Dr. Soetomo. Pemakamannya di area
Gedung Nasional Indonesia kabarnya dihadiri ribuan pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepadanya.
Gedung Nasional Indonesia
merupakan sebuah tempat bersejarah di Surabaya yang tidak bisa
dipisahkan dengan kegiatan dan peran penting yang disumbangkan Dr.
Soetomo dalam pergerakan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia.
Pada 27 Desember 1961, Dr. Soetomo ditetapkan sebagai Pahlawan
Nasional melalui SK. Presiden Republik Indonesia No. 657 tahun 1961.