Jumat, 14 Februari 2014

Asal Usul Kota Surabaya

Kota kedua terbesar di Indonesia sekaligus sebagai Ibu kota Jawa Timur yang kita sebut sebagai kota Surabaya. Kota ini memiliki nama “Kota Pahlawan”. Surabaya diambil dari simbol ikansura atau hiu (selamat) dan buaya (bahaya). Simbol Surabaya itu sendiri memiliki Cerita mitos, bagaimana cerita tersebut ?? berikut ini cerita asal usul kota Surabaya
asal usul kota surabaya

* * * Asal Usul Kota Surabaya ***

Dahulu, hiduplah seekor baya atau buaya dan seekor sura (hiu) yang saling bermusuhan. Kedua hewan yang sama-sama ganas, kuat, dan tangkas tersebut hampir setiap waktu berkelahi, tetapi tidak ada yang kalah maupun menang. Meskipun perilaku kedua binatang buas sebenarnya mengganggu ketenteraman, namun tak satu pun hewan yang berani menghentikan pertikaian mereka. Pada suatu hari, si Baya dan si Sura (julukan buaya dan hiu) merasa bosan karena mereka terus-terusan berkelahi. Dan akhirnya mereka bersepakat untuk berdamai.
Setelah keduanya berdamai, Lalu mereka mengambil keputusan untuk membagi kekuasaan. “Aku sepenuhnya berkuasa di dalam air. Semua mangsa yang ada di dalam air menjadi bagianku. Sementara kamu sepenuhnya berkuasa di daratan. Jadi, mangsamu hanya yang berada di daratan,” usul Sura. Mendengar usul Si Sura, Si Baya pun setuju.
Sejak itulah, si Baya dan si Sura tidak pernah lagi berkelahi. Binatang-binatang lain yang ada di sekitar mereka pun hidup tenteram dan damai. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Gara-garanya adalah Si Sura beberapa kali mencari mangsa di sungai, bukan di laut. Suatu hari, ketika si Sura mencari mangsa di sungai, si Baya akhirnya memergokinya. Tentu saja si Baya marah sekali melihat perilaku Si Sura.
“Siapa yang melanggar perjanjian? Hai, Baya, apakah kamu ingat isi perjanjian kita dulu bahwa akulah yang berkuasa di wilayah air? Bukankah sungai ini juga ada airnya?” kata si Sura.
Mendengar pernyataan si Sura, si Baya menjadi kesal dan bersikeras untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya.
Karena merasa tertipu, si Baya membatalkan perjanjian tersebut dan menantang si Sura untuk saling mengadu kekuatan. Akhirnya, pertarungan sengit pun terjadi kembali antara kedua binatang itu. Mereka bertarung mati-matian untuk mempertahankan wilayah mereka. Terkaman dan gigitan dalam pertarungan tersebut terus terjadi, luka di antara kedua binatang itu pun telah keluar. Air sungai yang semula jernih pun langsung berubah menjadi merah akibat darah yang keluar dari luka mereka. Dan pada detik – detik terakhir si Baya terus berupaya melakukan perlawanan. Usahanya tidak sia-sia dan ia berhasil menggigit ekor si Sura hingga hampir terputus. Si Sura pun menjerit kesakitan lalu melarikan diri menuju lautan.
Si Baya merasa bahagia karena berhasil mempertahankan wilayah kekuasaannya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat setempat memberi daerah tersebut nama “Surabaya”, yaitu diambil dari gabungan kata Sura dan Baya. Oleh pemerintah setempat, ikan Sura dan Buaya dijadikan lambang kota Surabaya dan cerita tersebut menjadi cerita rakyat Surabaya hingga kini.

Kamis, 13 Februari 2014

Tempat Wisata Kota Surabaya

Macam-macam Tempat Wisata di Surabaya

Kota Surabaya yang kerap kali kita sebut sebagai kota pahlawan ternyata memiliki beberapa tempat wisata menarik yang akhirnya menobatkan kota tersebut sebagai salah satu dari beberapa daerah wisata terbaik di provinsi Jawa Timur. Beberapa tempat wisata di Surabaya memang sering menjadi buah bibir para wisatawan karena keindahan dan kesan yang ditimbulkan setelah mengunjunginya. Oleh karena itu, jika kita ke Ibukota provinsi Jawa Timur ini, maka kita tidak akan menemukan habisnya atau merosotnya angka jumlah wisatawan yang berkunjung kesana karena jumlah wisatawan yang merasa kagum dengan kota yang satu ini memang tidak pernah ada habisnya. Pada tulisan kali ini hanya akan diangkat 4 tempat wisata saja yang ada di Surabaya.
tempat wisata di surabaya

Dari beberapa tempat tujuan wisata yang ada di Surabaya, semua tempat wisata itu memiliki jenis tersendiri. Adapun jenis atau varian tempat wisata yang ada tidak lain adalah tempat wisata alam, wisata kuliner, wisata edukasi, wisata sejarah, dan juga wisata anak-anak.

Beberapa tempat wisata di surabaya antara lain biasa dijabarkan sebagai berikut:

  1. Jembatan Suramadu Sebagaimana yang diketahui bahwa Suramadu adalah nama jembatan yang menghubungkan antara kota Surabaya dan Pulau Madura. Jembatan ini masuk ke dalam daftar tempat wisata di Surabaya lantaran pemandangan di sekitar jembatan ini adalah hamparan laut yang cantik. Beberapa wisatawan memang sengaja melintasi jembatan terpanjang ketiga di Asia Tenggara ini lantaran ingin melihat pemandangan selat Madura yang memukau. Adapun tarif yang dikenakan untuk melintasi jembatan sepanjang 5438 meter ini sebesar 30.000 rupiah untuk mobil dan 3000 rupiah untuk sepeda motor.
  2. Monumen Kapal Selam Monumen ini merupakan museum kapal selam KRI Pasopati 410 yang tidak lain adalah kendaraan laut milik TNI-AL buatan tahun 1952. Lokasi tempat wisata sejarah yang satu ini terletak di tepian Kali Mas tepatnya di Embong Kaliasin atau di sebelah Plasa Surabaya. Tempat wisata ini  sangat cocok untuk studi tour anak-anak, karena akan menambah wawasan sejarah untuk anak. Menarik, bukan?
  3. House of Sampoerna Masih berkutat di ulasan seputar wisata sejarah di Surabaya. Setelah ada monumen kapal selam, tempat tujuan wisata selanjutnya adalah House of Sampoerna yang merupakan salah satu museum milik Indonesia. Uniknya, museum yang satu ini berisi tentang sejarah rokok di Indonesia. Bangunan sejarah yang terletak di kawasan jalan Taman Sampoerna nomor 6 ini akan terlihat layaknya gedung Romawi berpilar 4 berbentuk rokok. Bangunan yang dibangun pada tahun 1862 ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi karena di dalamnya kita akan belajar tentang bagaimana cara memilih cengkeh berkualitas, cara mencampur bahan, hingga pada cara bagaimana kita mengepak rokok. Namun ini hanya untuk wisata sejarah ya, supaya anak-anak tahu sejarah adanya rokok. Yang paling penting Anda jangan pernah mengizinkan anak Anda untuk merokok. Jadi sebelum kesana Anda harus memahamkan terlebih dahulu kepada Anak Anda bahwa ini adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuannya.
  4. Wisata Hutan Mangrove Dari wisata sejarah, kini kita beralih ke wisata alam di garis timur pantai, tepatnya kecamatan Rungkut, Wonoreko, Surabaya. Di daerah ini terdapat wisata hutan Mangrove atau hutan Bakau. Selain digunakan sebagai daerah tujuan wisata, kawasan ini juga digunakan sebagai pelestarian alam hayati.

Jumat, 24 Januari 2014

Gedung Nasional Surabaya

Gedung Nasional Indonesia Surabaya

 

Gedung Nasional Indonesia lokasinya berada di Jl. Bubutan 87, Surabaya, tidak jauh dari Stasiun Pasar Turi dan Tugu Pahlawan. Gedung yang bersejarah ini terletak tepat di tepi jalan, berpagar jeruji besi setinggi kepala orang dewasa. Tidak terlihat ada penjaga ketika kami masuk ke dalam kompleks Gedung Nasional Indonesia ini. Di bagian depan terdapat Patung Dr. Soetomo, berdiri menghadap jalan memunggungi gedung dengan sebuah pendopo yang luas.

Gedung Nasional Indonesia dilihat dari samping depan, dengan patung Dr. Soetomo. Beberapa pohon palem tampak menghias halaman gedung yang masih kelihatan terawat baik itu.

gedung nasional indonesia

Sebuah tengara Gedung Nasional Indonesia di bawah patung Dr. Soetomo, berbunyi “Senantiasa berjuang kemuka jurusan kita, dengan tiada memperdulikan sendirian dan cela, bahkan tiada menyesali kehilangan dan keluarganya yang harus menderita dari barang-barang yang menyenangkan hidup kita sendiri”, diambil dari kutipan kata-katanya pada 11 Juli 1925.
Soetomo lahir di Desa Ngepeh, Nganjuk, pada 30 Juli 1888 dari pasangan Raden Soewadji dan Raden Ayu Soedarmi. Sejak kecil Soetomo diasuh oleh nenek dan kakeknya di Ngepeh, karena ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri di Jombang didampingi ibunya.
Namun karena dimanja kakek neneknya, Soetomo baru mau bersekolah di Bangil, Pasuruan, ketika berusia 8 tahun setelah berhasil dibujuk dan ikut bersama Raden Hardjodipuro, pamannya. Di sekolah dasar Soetomo selalu berada di peringkat teratas, lulus pada 1902, dan setahun kemudian masuk Stovia (Sekolah Kedokteran) di Jakarta.

gedung nasional indonesia

Tugu tengara di bagian kanan halaman Gedung Nasional Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, berbunyi “Semenjak berdirinya pada zaman Belanda gedung ini menjadi pusat pergerakan nasional. Pada 25-27 Agustus 1945 Komite Nasional Indonesia dan BKR dibentuk di gedung ini. Juga digunakan untuk mempersiapkan Rapat Samodra bersejarah menentang larangan Kenpeitai di Tambaksari 21 September 1945.”

gedung nasional indonesia

Tengara lain yang cukup menarik di Gedung Nasional Indonesia yang berbunyi ‘Batoe Pertama dari Pagar “Gedong Nasional Indonesia” terpasang oleh Kaoem Istri Indonesia pada 13 Juli 1930. Peringetan ini terpasang oleh Dames Congressisten P.P.I.I. pada 13 December 1930′

gedung nasional indonesia

Tengara di dalam ruang pendopo Gedung Nasional Indonesia, ditulis dengan ejaan lama, berbunyi “Kami Bangsa Indonesia sadar, bahwa para Pahlawan telah menjumbangkan bagiannja jang njata pada tertjapainja kemerdekaan nusa dan bangsa. Maka atas djasa para pahlawan itu Bangsa Indonesia dengan penuh chidmat dan hormat mempersembahkan suatu bangunan sebagai tanda terima kasih dan penghargaan jang setinggi-tingginja. Djakarta 17 Agustus 1964, atas nama Bangsa Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno’

gedung nasional indonesia

Tengara di sebelah tengara Gedung Nasional Indonesia sebelumnya, berbunyi “Gedung Nasional Indonesia (1934). Tempat pusat pergerakan nasional Partai Indonesia Raya (Parindra) dibawah pimpinan dr. Soetomno, tempat pembentukan Komisi Nasional Indonesia (KNI) dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Propinsi Jawa Timur, Karesidenan dan Kota Surabaya, serta pembentukan Pemuda Putri Republik Indonesia (PPRI) dan salah satu lokasi terjadinya pertempuran 10 November 1945 antara Arek-arek Suroboyo dan tentara Sekutu”
Pada 20 Mei 1908, dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo bersama dengan dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Radjiman Wedyodiningrat, dr. Soeradji Tirtonegoro, dr. M Soelaiman, dr. R Tirtokusumo, dr. M Goembrek, dr. Angka Prodjosoedirdjo, dr. Moch Saleh, dr. Gunawan Mangunkusumo, dr. Cipto Mangunkusumo, dr. M Soewarno dan dr Gondo Soewarno. Ia dipercaya menjadi ketuanya. Tanggal berdirinya Boedi Oetomo ini kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Boedi Oetomo menyelenggarakan Konggres I di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Setahun kemudian anggotanya telah mencapai jumlah 10.000 orang.

gedung nasional indonesia

Pendopo luas Gedung Nasional Indonesia yang ditopang oleh pilar-pilar kayu.
Soetomo menyelesaikan pendidikan kedokterannya pada 1911 dan bertugas berturut-turut di Semarang, Batavia, Lubuk Pakam, Kepanjen Malang, Magetan, Baturaja, dan pada 1917 dipindahkan ke Blora dimana ia menikah dengan Evardina Johanna Broering, seorang perawat berkebangsaan Belanda.
Tahun 1919 dr. Soetomo mendapat tugas belajar di Universitas Amsterdam. Ia pun aktif serta menjadi ketua di Perhimpunan Indonesia. Setelah mendapat Diploma Europeech Aertsen pada 1923, Dr Soetomo bekerja pada Prof. Mendes da Costa di Amsterdam, lalu menjadi asisten Ilmu Dermatologi untuk Prof. Dr. Unma di Hamburg, dan memperdalam penyakit kulit dan kelamin pada Prof. Plaut di Weenen Paris, sebelum akhirnya pulang dan tinggal di Surabaya.
Pada 11 Juli 1924, Dr. Soetomo mendirikan Pandu Bangsa Indonesia (Indonesische Studie Club). PBI dengan Boedi Oetomo kemudian bergabung membentuk Parindra pada 1935, dan pada 15 Mei 1937 diselenggarakan Konggres pertama dimana Dr. Soetomo terpilih sebagai ketuanya.

gedung nasional indonesia

Area Gedung Nasional Indonesia sekaligus menjadi tempat disemayamkannya jenazah Dr. Soetomo, yang wafat pada 30 Mei 1938 dalam usia 50 tahun, setelah menderita sakit sekitar dua tahun. Letak makamnya berada di bagian belakang Gedung Nasional Indonesia.
gedung nasional indonesia

Bendera merah putih di makam Dr. Soetomo. Pemakamannya di area Gedung Nasional Indonesia kabarnya dihadiri ribuan pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepadanya.


Gedung Nasional Indonesia merupakan sebuah tempat bersejarah di Surabaya yang tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan dan peran penting yang disumbangkan Dr. Soetomo dalam pergerakan politik untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pada 27 Desember 1961, Dr. Soetomo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK. Presiden Republik Indonesia No. 657 tahun 1961.

Senin, 20 Januari 2014

Pakaian Adat Surabaya

Busana Cak dan Ning Surabaya
FILOSOFI CAK SURABAYA
 Pemilihan Putra dan Putri Daerah di berbagai kota setiap tahun selalu diadakan. Pemilihan ini mengundang berbagai pro dan kontra. Terlepas dari pro dan kontra tersebut kita mencoba untuk menyampaikan (sekaligus menjawab pertanyaan Cak Kandar yll) terutama mengenai busana Cak dan Ning Surabaya.

Cak merupakan sosok pemuda pria Surabaya yang ceplas ceplos sehingga lebih suka mengatakan sesuatu secara spontan dan penuh pertimbangan. Sosok Cak Surabaya adalah sosok pelindung dan memiliki loyalitas yang tinggi. Hal ini dapat kita lihat melalui kemanapun Ning pergi, Cak selalu mendampingi.

Cak Surabaya memiliki busana kebesaran. Baju Kebesaran adalah pakaian khas Surabaya Tempo Doeloe (dulu) dan hingga kini pakaian tersebut masih digunakan dalam acara besar di kediaman walikota, balai kota dan acara - acara formal yang lain.

Setiap baju kebesaran Cak Surabaya memiliki banyak filosofi. Mulai dari Udeng Batik poteh pancot miring warna hitam tiga tingkat hingga terompah. Adapun Penjelasan dari tiap - tiap bagian baju kebesaran adalah sebagai berikut.
a. Udeng Batik poteh pancot miring warna hitam tiga tingkat
Udeng ini memiliki makna bahwa udeng ini merupakan ciri khas dari Jawa Timur, bermotif batik dan memiliki pancot.
b. Jas tutup badan ( beskap )dengan asesoris
Beskap Cak memiliki warna putih gading yang melambangkan kesucian, memiliki 5 kancing berwarna emas yang memiliki makna arek Surabaya selalu menjunjung tinggi rukun islam.

c. Kuku macan
Pada awalnya gantungan di baju Cak adalah rantai jam dengan bendel hiasan akan tetapi karena terlalu berat maka diganti dengan kuku macan. Kuku macan sendiri memiliki makna kekuatan dan ketangkasan yang tak terbatas sehingga Cak menjadi pelindung yang tangguh dan dapat dihandalkan. Kuku Macan biasanya digantungkan pada kancing kedua dari kelima kancing baju beskap
d. Sapu tangan merah
Sapu tangan merah ditempatkan di saku sebelah kiri atas beskap kebesaran. Sapu tangan ini melambangkan cak merupakan sosok yang penuh dengan loyalitas dan setia

e. Jarik  Parikesit, Rawon atau Gringsing Wiron
Jarik merupakan salah satu lambang dari keluwesan Jawa. Selain itu dalam bertindak arek Surabaya diharuskan untuk bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin tapi tetap tidak meninggalkan aturan dan norma yang ada.

 f. Terompah
Terompah merupakan salah satu unsur baju kebesaran Cak Surabaya. Terompah adalah simbol kecerdasan, foundation, tempat berpijak, berpikir, termasuk kemudian simbol segala yang duniawi.

Sedang Ning Surabaya mengenakan sanggul bentuk gelung rambut biasa, pakaiannya menggunakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan  warna muda. Kebaya dan kerudung, warnanya sama. Kain kebaya tidak boleh tembus pandang, sehingga tidak memperlihatkan pakaian dalam. Lalu memakai peniti renteng.
            Bagian bawahnya, busana Ning menggunakan kain sarung batik pesisir, kemiren harus terlihat dengan tumpal yang diletakkan di bagian depan.
            Telinga dihiasi anting-anting panjang, kaki memakai binggel dan tanga memakai  gelang emas. Mata diberi celak, jari-jari diberi pacar (warna).
            Alas kaki berupa selop bertutup depan, runcing dan tinggi minimal 7 sampai 9 centimeter.